Membangun masyarakat Pedesaan Dengan Membangun Kebun Plasma

Kata plasma mungkin tidak asing bagi sebagian masyarakat, terutama yang telah pernah belajar biologi, pikirannya akan menerawang ke sebuah sel. Ya memang begitulah adanya, akan tetapi dikalangan perkebunan plasma merupakan suatu pembagunan kebun dengan memanfaatan lahan masyarakat dan hasilnya akan di bagi antara kebun inti dengan pemilik lahan, entah pembagiannya seperti apa itu tergantung kespakatan kedua belah pihak, atau ada juga plasma dimana lahan yang sudah jadi (dalam hal ini tinggal perawatan saja) dikembalikan untuk dikelola masyarakat, dan dari hasil panen akan digunakan untuk mengganti biaya yang selama ini digunakan untuk mambagun kebun sampai biaya itu lunas.

Kebetulan saya adalah seorang staff (assistant) di perkebunan swasta yang ada di Kalimantan timur. Perkebunan ini sudah berdiri sejak tahun 1994, namun baru tahun lalu (2009) membuka kemitraan dengan petani dengan membuka plasma. Banyak hal yang harus diberikan pemahaman ke masyarakat supaya mereka ikut serta dalam program pembangunan kebun kela pasawit plasma. Berbagai upaya dilakukan untuk menyukseskan kegiatan tersebut, dan akhirnya terlaksana juga program itu dengan terbentuknya koperasi, dan sampai saat ini telah terbuka kebun plasma kira-kira 1.500 ha. Semoga saja ke depannya program ini terlaksana dengan baik, sehingga masyarakat terberdayakan melalui program kemitraan tersebut.

Memberikan pemahaman itu memang sulit dan berliku, disebagian masyarakat sangat antusias untuk ikut serta, tapi sebagian lagi enggan untuk ikut serta karena dibenak mereka adalah, mereka telah terbebani utang, karena pembangunan kebun berdasarkan pinjaman dari bank sehingga akta perjanjian ditandatangani secara kolektif oleh warga, yang setahu saya per hektar lahan dibiayai dengan biaya pinjaman sebesar Rp39.000.000,00. Sebetulnya besar biaya tersebut saya tidak begitu tahu pasti karena saya bagian agronominya saja sehingga besarnya biaya saya (kami) tidak terlibat di dalamnya, kami hanya mengurusi masalah agronominya saja (membangun kebun sampai jadi/ TBM sampai TM).

Masyarakat yang ikut serta (lahannya masuk dalam plasma) juga sangat berbeda pemahamannya tentang plasma, ada sebagian masyarakat yang semangat kerja (kebetulan tenaga kerja direkrut dari masyarakat pemilik atau yang sedesa), tapi akan tidak bersemangat jika lahan yang dikerjakan berada di lahan orang lain (bukan lahannya). Tentang hal itu memang menjadi tantangan bagi staff agronomi, dengan melakukan berbagai upaya bagaimana seharusnya kebun ini dibagun. Karena bagi staff agronomi, pembangunan kebun harus dilaksanakan dengan serius dan penuh dedikasi, kare disitulah ilmu dan pengabdian dapat kami terapkan.

Terkadang ada juga yang membuat hati miris, dimana hanya karena dengan omongan rekannya yang tadinya dia ikut, pas detik-detik terakhir ternyata dia tidak ikut serta dalam plasma. Yang menjadi maslah adalah lahan tidak berada satu hamparan sehingga terpisah dengan adanya lahan yang tidak mau dibuka, dengan demikian menjadi tantangan tersendiri buat divisi agronomi…. Tapi bagaimanapun hati tetap semangat untuk memajukan masyarakat dengan pembangaunan perkebunan yang bermitra dengan masyarakat (Plasma).

Sumber: sosbud.kompasiana.com